Lampung.Mata Pantau.com- Metro - Pemerintah Kota Metro memperkuat upaya peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak melalui audiensi bersama tim visitasi RS Persahabatan Jakarta dalam rangka pengampuan tenaga ahli bidang kesehatan.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut dukungan pemerintah pusat terhadap penguatan layanan kesehatan ibu dan anak yang saat ini diampu oleh RS Persahabatan.
Dalam audiensi tersebut ditegaskan bahwa keterlibatan RS Persahabatan merupakan bentuk penguatan jejaring pelayanan kesehatan nasional.
Ketua Tim Visitasi RS Persahabatan Jakarta, dr. Ernie Meliane Yulisye, A. Md. F. T. menjelaskan bahwa tim yang hadir merupakan bagian dari program pengampuan kesehatan ibu dan anak yang melibatkan Persatuan Dokter Anak dan sejumlah tenaga kesehatan.
Program tersebut ditujukan untuk mendampingi rumah sakit-rumah sakit di Provinsi Lampung dalam meningkatkan kualitas layanan.“Kami dari tim pengampu Kesehatan Ibu dan Anak dari Persatuan Dokter Anak. Jadi, kita ini mengampu rumah sakit-rumah sakit yang ada di Provinsi Lampung,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tim terdiri dari tenaga kesehatan ibu, kesehatan anak dan bayi, hingga tenaga elektromedik serta melibatkan dokter spesialis serta perawat intensif anak untuk melakukan pendampingan teknis dan evaluasi lapangan.
Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut merupakan program Kementerian Kesehatan yang diarahkan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
“Tujuan dari kegiatan monev ini dari Menteri Kesehatan. Tujuannya intinya adalah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Memang di Indonesia ini kita sedikit tinggi, tetapi lebih rendah dari negara-negara ASEAN,” jelasnya saat melakukan audensi di Rumah Dinas Wali Kota Metro, Jumat (22/05/2026)
Melalui skema pengampuan, rumah sakit yang memiliki kapasitas lebih tinggi diharapkan dapat memberikan pembinaan dan arahan kepada rumah sakit yang sedang memperkuat pelayanan.
Pendekatan yang dilakukan, menurut tim visitasi, bukan untuk mencari kekurangan, melainkan membangun standar pelayanan yang lebih baik. “Kemarin memang kita sudah melakukan visitasi. Jadi, yang kami lakukan itu di sini bukan mencari kesalahan atau kekurangan dari rumah sakit yang kita ampu, tapi kita sama-sama nanti akan memperbaiki mutu layanan kesehatan ibu dan anak di Rumah Sakit Jenderal Ahmad Yani Metro,” katanya.
Dalam visitasi tersebut dilakukan simulasi penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi secara menyeluruh, mulai dari proses masuk IGD, tata laksana ibu hamil, resusitasi bayi, hingga penanganan kondisi penyelamatan nyawa pada bayi.
Tim visitasi juga menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan sarana dan prasarana RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro, khususnya fasilitas MICU. “Rumah Sakit Metro ini untuk satpras MICU, kami akui dengan empat jempol, Pak. Karena alat-alatnya canggih, bahkan yang di rumah sakit kita pun belum memiliki begitu,” ungkapnya.
Meski demikian, tim menilai masih diperlukan penguatan pada aspek sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan dan resertifikasi tenaga kesehatan agar kemampuan yang dimiliki dapat berjalan seimbang dengan teknologi yang tersedia.
“Kalau dari sisi SDM-nya mungkin yang perlu nanti ditingkatkan kembali. Jadi diadakan pelatihan, baik dari perawatnya, dokter timnya harus dilakukan kembali pelatihan dan atau resertifikasi juga. Harapan kami pelayanan obstetri secara emergensi dan komprehensif ini bisa menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.
Menanggapi hasil visitasi tersebut, Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso menyampaikan bahwa masukan yang diberikan menjadi bahan penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan daerah, terutama dalam mendukung target penurunan angka kematian ibu dan bayi, dimana hasil evaluasi tidak hanya menyentuh aspek sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kualitas SDM serta penguatan tata kelola rumah sakit yang mulai diarahkan ke sistem digital.
“Saya sudah mendengarkan panjang lebar yang disampaikan oleh rekan-rekan dari Jakarta. Tim visitasi sudah banyak melihat, baik beberapa sarana prasarana, peningkatan SDM, dan bagaimana pola manajemennya yang sudah tidak menggunakan sistem manual tetapi harus menggunakan sistem digital,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Bambang juga menekankan bahwa pengembangan rumah sakit tidak cukup hanya dengan penyediaan alat kesehatan, tetapi juga harus diikuti dengan kesiapan tenaga yang mampu mengoperasikan serta menjaga standar layanan.
Ia berharap pendampingan dari RS Persahabatan tidak berhenti pada proses asistensi teknis, tetapi juga membuka akses yang lebih luas kepada pemerintah pusat agar kebutuhan rumah sakit daerah dapat lebih cepat direspons.
“Dalam rangka asistensi ini bukan hanya sekadar mencari beberapa kekurangan, tetapi juga mendukung dan ikut membantu bagaimana hal-hal yang sangat dibutuhkan di RSUD Jendral Ahmad Yani Metro ini bisa terpenuhi, baik dari segi peralatan maupun SDM, terutama dokter-dokter subspesialis yang belum tersedia di sini,” tegasnya.
Menurutnya, penguatan RSUD Jenderal Ahmad Yani memiliki dampak yang lebih luas karena Kota Metro menjadi daerah penyangga pelayanan kesehatan di Lampung yang melayani pasien dari berbagai kabupaten.
Karena itu, ia meminta sinergi antara pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, Pemerintah Provinsi Lampung, dan RS Persahabatan terus diperkuat agar akses terhadap dukungan kebijakan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan alat kesehatan dapat semakin dipermudah. (ADV)
